Jumat , September 24 2021
Home / Daerah / Kota Jambi / BPS Provinsi Jambi Adakan Seminar Hari Statistik Nasional Dalam Mengentaskan Kemiskinan dan daya beli masyarakat

BPS Provinsi Jambi Adakan Seminar Hari Statistik Nasional Dalam Mengentaskan Kemiskinan dan daya beli masyarakat


Jambi — Jambiekspose. badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mengadakan Seminar Hari Statistik Nasional
Kemiskinan dan daya beli masyarakat senin(25/09) Hotel Swiss Bell.
Hal ini ditandai dengan dibukanya secara resmi oleh Kepala BPS Provinsi Jambi Dadan Hardiwan.
Turut mendampingi Prof. Abuzar Azra Badan Pusat statistik RI, Prof. Dr. Syamsurizal Tan, SE. Me ketua ikatan sarjana ekonomi Indonesia (ISEI).

Dikatakan Dadan Hardiawan, angka kemiskinan terbaru. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen) atau meningkat sebesar 6,90 ribu orang dibanding September 2016 sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen).

“Sementara angka kemiskinan di Provinsi Jambi justru menurun. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi pada bulan Maret 2017 mencapai 286,55 ribu orang (8,19 persen) atau menurun sebesar 4,26 ribu orang dibanding September 2016 sebesar 290,81 ribu orang (8,37 persen)”terangnya.

Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kemiskinan,
Pertama, Tren Kemiskinan, Selama sepuluh tahun terakhir (2005-2017), persentase penduduk miskin di Provinsi Jambi turun dari 11,88 persen pada tahun 2005 menjadi 8,40 persen pada tahun 2010 dan 8,19 persen pada Maret 2017.

” Dalam kurun waktu tersebut, angka kemiskinan turun rata-rata 0,31 persen atau 2.960 orang per tahun. Dengan catatan jumlah penduduk miskin rata-rata meningkat 9.280 orang per tahun selama periode 2010-2015, dan kemudian menurun rata-rata 7.030 orang selama periode 2016-2017. Data tersebut menunjukkan adanya percepatan penurunan kemiskinan selama dua tahun terakhir” ujarnya.

Malah Angka kemiskinan di daerah perkotaan Provinsi Jambi cenderung meningkat. Data BPS menunjukkan bahwa penduduk miskin di daerah perkotaan meningkat dari 116,33 ribu orang pada September 2016 menjadi 120,62 ribu orang pada Maret 2017 atau meningkat sebesar 4,29 ribu orang. Sementara tren kemiskinan di daerah perdesaan cenderung menurun  dari 174,48 ribu orang pada September 2016 menjadi 165,93 ribu orang pada Maret 2017 atau berkurang sebesar 8,55 ribu orang.

Kinerja kabupaten/kota dalam menurunkan angka kemiskinan menunjukkan perbedaan. Selama periode 2005-2015, tiga kabupaten yang tercatat mempunyai kinerja baik dalam penurunan kemiskinan, yaitu Kabupaten Kerinci, Sarolangun dan Batanghari. Rata-rata penurunan jumlah penduduk miskin di tiga Kabupaten tersebut berturut-turut sebesar 1.850 orang, 1.110 orang dan 1.050 orang per tahun. Di sisi lain, kinerja Kota Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur relatif lambat dalam pengurangan kemiskinan.

Dalam rentang waktu yang lebih pendek (2010-2015), kinerja kabupaten/kota dalam mengurangi angka kemiskinan tercatat kurang optimal. Hampir semua kabupaten/kota di Provinsi Jambi mengalami kenaikan jumlah penduduk miskin per tahunnya, kecuali Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh yang cenderung menurun dan tetap.

Kedua, Kantong Kemiskinan Perdesaan. Kantong-kantong kemiskinan di Provisi Jambi terdapat di perdesaan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan pada Maret 165,93 ribu orang lebih tinggi dibanding penduduk miskin perkotaan sebesar 120,62 ribu orang. Fenomena kemiskinan perdesaan erat kaitannya dengan kinerja pembangunan pertanian yang belum optimal.

Potret kemiskinan perdesaan ditandai dengan rendahnya pendapatan petani yang dipengaruhi oleh terbatasnya produksi, rendahnya mutu hasil produksi dan rendahnya harja jual produksi pertanian. Hambatan utama yang dihadapi masyarakat miskin perdesaan antara lain terbatasnya kapasitas produksi terutama benih/bibit, peralatan dan modal; rendahnya akses terhadap pengetahuan, teknologi dan informasi pasar; rendahnya keterampilan dan kewirausahaan; serta kurangnya jalur distribusi dan pemasaran.

Selain itu, angka kemiskinan juga dipengaruhi oleh meningkatnya beban pengeluaran dan melemahnya daya beli rumah tangga petani. Daya beli yang memburuk akan berdampak pada perlambatan pengurangan kemiskinan, penurunan kesejahteraan, serta peningkatan keresahan dan kekecewaan masyarakat. Daya beli tidak identik dengan pendapatan.
Ketiga, Revitalisasi Pertanian. Revitalisasi pertanian menjadi salah satu jawaban terhadap fenomena kemiskinan perdesaan.  Revitalisasi pertanian merupakan suatu kesadaran bersama untuk menempatkan kembali arti penting pembangunan pertanian bagi penguatan ketahanan pangan, pengembangan kedaulatan pangan, penyediaan bahan baku industri pengolah hasil pertanian, penciptaan kesempatan kerja, pengurangan kemiskinan, peningkatan pendapatan masyarakat terutama para petani, dan peningkatan pendapatan devisa negara.
Keempat mengenai adanya, Pilihan Kebijakan.

Percepatan pengurangan kemiskinan di Jambi dapat ditempuh melalui berbagai kebijakan dan program pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pilihan pertama adalah percepatan revitalisasi pertanian dengan menyediakan syarat-syarat pokok dan syarat-syarat pelancar pembangunan pertanian.. Pilihan kedua adalah percepatan pembangunan industri perdesaan dengan mengembangkan agribisnis berbasis kepada penguatan kelompok usaha pertanian dan perluasan kerjasama dengan pelaku usaha. Pilihan ketiga yang paling optimal adalah kombinasi dari  revitalisasi pertanian dan industrialisasi perdesaan untuk meningkatkan keterkaitan hulu-hilir pertanian.

Penulis : Inro

Editor : k20

Spread the love

About jambiekspose

Check Also

Danrem 042/Gapu Menghadiri Upacara Hari Ulang Tahun ke 61 Agraria Nasional

Jambiekspose.com ( Jambi ) – Komandan Korem 042/Gapu Brigjen TNI M. Zulkifli, S.I.P, M.M menghadiri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas