
JAMBIEKSPOSE.COM | JAMBI – Lantai panggung Taman Budaya Jambi mendadak berubah menjadi ruang magis pada Sabtu malam. Tubuh-tubuh penari menjejak dengan hentakan berulang, tangan bergerak tegas seolah membuka jalan bagi roh leluhur untuk hadir. Inilah “Simpuh Ruh”, karya tari yang lahir dari inspirasi Ritual Besale, tradisi penyembuhan Suku Anak Dalam di Kabupaten Batanghari. Sabtu 6 September 2025.
Tari ini diciptakan oleh tiga koreografer muda Universitas Jambi, yaitu Syifa Athaya Rifda, Sukma Novia Riani, dan Gian Febriani, sebagai bagian dari tugas akhir Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik. Mereka menafsir ulang perjalanan sakral Besale—sebuah ritual ketika masyarakat berkumpul, seorang dukun berdiri di pusat lingkaran, dan roh leluhur dipanggil untuk memulihkan jiwa yang sakit.
Pertunjukan dibuka dengan gambaran damai kehidupan Suku Anak Dalam yang menyatu dengan alam. Namun, ketenangan itu terusik ketika penyakit gaib merasuki salah seorang anggota. Dari kegelisahan itu lahirlah kebersamaan: tubuh-tubuh menari sebagai doa, hentakan kaki menjadi mantra, dan pengulangan gerak menjadi simbol kekuatan kolektif.
“Dalam karya ini kami ingin menghadirkan tubuh sebagai jembatan, antara manusia dan ruh leluhur, antara sakit dan penyembuhan,” ungkap para koreografer.

Pertunjukan Simpuh Ruh mendapat arahan langsung dari Dra. Riswani, M.Sn., selaku dosen pembimbing. Ia menilai karya ini sebagai cermin pentingnya kembali pada akar kebudayaan.
“Seni tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari denyut tradisi dan jejak leluhur yang terus hidup. Dengan menari dari akar budayanya, para mahasiswa meneguhkan kesenian sebagai jalan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Galuh Tulus Utama, S.Pd., M.Sn., menekankan bahwa tari tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan.
“Tarian Simpuh Ruh adalah bahasa sunyi yang menyatukan manusia, alam, dan leluhur. Karya ini membuktikan bagaimana generasi muda dapat merawat sekaligus memperkenalkan budaya Jambi melalui bahasa gerak yang puitis,” jelasnya.
Dengan karya ini, mahasiswa Universitas Jambi tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, tetapi juga menghadirkan ingatan kolektif tentang doa, penyembuhan, dan akar budaya yang terus hidup dalam tubuh masyarakat Jambi.
TIM | IND
Jambiekspose.com Tajam & terpercaya