
Jambi, Februari 2025 – Provinsi Jambi, tanah yang kaya akan sumber daya alam, kini semakin terkikis oleh kerakusan segelintir pengusaha tambang yang tergabung dalam Perkumpulan Pengusaha Tambang Batu Bara (PPTB). Jalur darat hancur, sungai tercemar, hutan diratakan, sementara masyarakat hanya bisa menjadi saksi bisu dari kehancuran yang mereka wariskan.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang menikmati hasil dari eksploitasi ini? Apakah rakyat Jambi mendapatkan keuntungan? Ataukah yang menikmati hanya segelintir orang yang duduk di atas pundi-pundi emas hitam ini, sementara rakyat hanya kebagian debu dan lumpur kotor?
Jalur Darat: Infrastruktur Hancur, Rakyat Jambi Menderita
Truk-truk tambang batu bara milik perusahaan di bawah PPTB setiap hari menggilas jalan-jalan umum di Jambi. Ribuan kendaraan berat beroperasi tanpa henti, membuat jalan berlubang, aspal terkelupas, dan jembatan rusak. Lalu siapa yang menanggung biaya perbaikan?
Apakah PPTB mau mengeluarkan uang untuk memperbaiki jalan yang mereka hancurkan? Tidak.
Yang menanggung kerusakan adalah rakyat.
Warga yang dulu bisa menikmati jalan desa yang layak, kini harus melewati kubangan lumpur setiap kali hujan datang. Anak-anak yang berangkat sekolah harus bergulat dengan debu tebal akibat konvoi truk tambang yang beroperasi siang dan malam. Kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak semakin meningkat. Semua akibat kerakusan PPTB yang hanya peduli pada keuntungan tanpa mau bertanggung jawab atas dampak yang mereka tinggalkan.
Jalur Sungai: Sungai Batanghari Kini Menjadi Jalur Limbah Tambang
Bukan hanya jalur darat yang dikorbankan, Sungai Batanghari—nadi kehidupan bagi masyarakat Jambi—juga ikut diracuni.
Tongkang-tongkang batu bara milik pengusaha PPTB melintas setiap hari, mengganggu ekosistem sungai, mencemari air, dan merusak jembatan yang berdiri di atasnya. Peristiwa tabrakan tongkang terhadap Jembatan Tembesi menjadi bukti nyata betapa rakusnya pengusaha tambang yang mengutamakan keuntungan mereka tanpa memikirkan keamanan dan keberlanjutan infrastruktur Jambi.
Air Sungai Batanghari yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini penuh dengan lumpur dan limbah tambang. Nelayan kehilangan mata pencaharian karena ikan mati akibat pencemaran. Petani yang mengandalkan air sungai untuk irigasi kini harus menghadapi hasil panen yang semakin merosot.
Ketika masyarakat Jambi bertanya, siapa yang akan bertanggung jawab atas kerusakan ini, PPTB hanya diam.
Hutan Jambi: Diratakan Demi Tambang, Masyarakat Kehilangan Hak Hidup
Jambi dulu dikenal dengan hutan-hutan yang rimbun, rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna. Kini, hutan-hutan itu lenyap satu per satu, digantikan oleh lubang-lubang raksasa yang ditinggalkan oleh perusahaan tambang di bawah PPTB.
Deforestasi besar-besaran terjadi tanpa kendali. PPTB terus membuka lahan baru tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi ekosistem dan perubahan iklim. Tanah longsor, banjir, dan kekeringan kini menjadi bencana yang semakin sering terjadi di Jambi akibat rusaknya ekosistem alami.
Warga yang dulu hidup berdampingan dengan alam, kini dipaksa menerima kenyataan bahwa tanah mereka telah diambil oleh industri tambang. PPTB mengeruk keuntungan dari perut bumi Jambi, sementara rakyat kehilangan hak hidup mereka.
Lalu, Masyarakat Jambi Dapat Apa?
Hasil tambang batu bara yang dikeruk dari tanah Jambi tidak dinikmati oleh rakyat Jambi. Uang yang dihasilkan dari ekspor batu bara mengalir ke kantong pengusaha dan elit yang berkepentingan.
Sementara itu, rakyat hanya mendapatkan jalan rusak, sungai tercemar, udara penuh debu, dan hutan yang hilang.
Ketika jalan rusak, rakyat yang harus menanggungnya.
Ketika jembatan ambruk, rakyat yang harus menunggu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Ketika sungai tercemar, rakyat yang kehilangan sumber air dan mata pencaharian.
Ketika hutan hilang, rakyat yang harus menghadapi bencana ekologi.
Apakah ini adil? Apakah PPTB benar-benar memberikan manfaat bagi Jambi, atau mereka hanya sekadar mafia sumber daya alam yang mengeruk keuntungan tanpa tanggung jawab?
Jika PPTB masih memiliki sedikit moral dan tanggung jawab sosial, mereka harus:
- Membayar semua biaya perbaikan jalan dan infrastruktur yang mereka rusak
- Mengalokasikan dana khusus untuk pemulihan ekosistem sungai dan lingkungan yang telah mereka hancurkan
- Menyediakan kompensasi nyata bagi masyarakat yang terdampak langsung akibat kegiatan tambang mereka
- Menjalankan operasional yang transparan dan tunduk pada regulasi ketat demi menjaga keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat Jambi
Jika PPTB tidak bisa melakukan itu, maka PPTB harus dibubarkan dan operasional tambang mereka dihentikan.
Sudah cukup rakyat Jambi menjadi korban eksploitasi. Kekayaan alam Jambi bukan hanya untuk segelintir orang di PPTB. Sumber daya alam ini harus digunakan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat, bukan hanya untuk menggemukkan rekening para pengusaha tambang yang tidak peduli pada kehancuran yang mereka tinggalkan.
Masyarakat Jambi berhak mendapatkan lebih dari sekadar janji kosong dan udara penuh debu batu bara. Saatnya PPTB berhenti memperkosa alam Jambi dan mulai bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan!
KontakPERS :
Penulis : Kang Maman – Andrew Sihite
Jabatan : Jurnalis Muda
No. HP : 0816.3278.9500
Jambiekspose.com Tajam & terpercaya